Jejak Pendapat

Sorry, there are no polls available at the moment.

Sebuah kisah yang saya paparkan ini saya ulangi dari kisah Ustadz Yusuf Mansyur yang beliau kutip kebenarannya dari seorang guru beberapa tahun yang lalu.

ceritanya:
Saya mengajar di sekolah SD di tengah-tengah kota Kuala Lumpur. Saya mengajar kelas yang masuk siang. Salah seorang murid saya setiap hari datang terlambat ke sekolah. Sepatu dan bajunya selalu kotor. Setiap kali saya bertanya tentang baju dan sepatunya dia hanya berdiam diri.
Saya masih bersabar dengan kondisi pakaiannya, tetapi kesabaran saya tertantang dengan sikapnya yang setiap hari datang terlambat. Awalnya saya hanya memberi saran. Dia hanya menundukkan kepala tanpa berkata-kata kecuali anggukkan yang seolah-olah dipaksa. Kali kedua saya memperingatkan, dia masih juga mengangguk tapi masih juga datang terlambat keesokannya. Kali ketiga saya terpaksa menjalankan janji saya untuk memukulnya kalau masih terlambat. Anehnya dia hanya menyerahkan punggungnya untuk dirotan. Airmata saja yang jatuh tanpa sepatah kata dari mulutnya.

Keesokan harinya dia masih juga terlambat, dan saya memukulnya lagi. Namun ia masih tetap datang kesekolah dan masih tetap terlambat.
Suatu hari saya berencana untuk melihatnya ke rumahnya. Setelah mendapatkan alamatnya, saya melanjutkan niat saya. Dia tinggal di sebuah kawasan Setinggan tidak berapa jauh dari sekolah. Kondisi rumahnya sangat buruk. Saya melihat murid saya itu sedang berdiri di depan rumahnya dalam keadaan gelisah. Seorang wanita yang mungkin ibunya juga kelihatan gelisah.

Lebih kurang pukul 1.30 seorang anak lelaki sedang berlari-lari sekuat tenaga menuju ke rumah itu. Sambil berlari dia membuka baju sekolahnya. Sampai di depan rumah, baju dan sepatunya diserahkan pula kepada murid saya yang terus bergegas memakainya. Sebelum pakaian sekolah sempurna dipakai, dia sudah berlari ke arah sekolah.
Saya kembali ke sekolah dengan penuh penyesalan. Saya memanggil anak itu sambil menahan airmata yang mulai tergenang.

“Maafkan pak guru. Tadi bapak pergi ke rumah kamu dan mengawasi kamu dari jauh.Siapa yang berlari memberikan kamu baju tadi?”
Dia terkejut dan wajahnya berubah.
“Itu abang saya. Kami berbagi baju dan sepatu sebab tak ada baju lain. Itu saja baju dan sepatu yang ada. Maafkan saya, guru.” jawabnya
“Kenapa kamu tak beritahu bapak dan kenapa kamu biarkan saja bapak memukul kamu?”
“Ibu saya pesan, jangan meminta-minta pada orang, jangan ceritakan kemiskinan kita pada orang. Kalau guru ingin pukul serahkan saja punggung kamu.”
Sambil menahan airmata yang mula berguguran saya memeluk anak itu, “Maafkan guru, …….”

Kejadian itu cukup menginsafkan saya. Selepas itu saya coba membantunya sedapat yang saya mampu.

Subhanallah…

Assalaamualaikum,..
Selamat buat siswa siswi atas prestasi yang telah dicapai di tahun ini..
100_4278
Kelas I Ibnu sina :
Peringkat I : Khalif Alivi Aeris Al-Faritszi
Peringkat I : Adhitya Putra Wiratama
Peringkat III: Daffa Ezzart Qur’aini Zahwa Putri

Kelas I Ibnu Rusydi :
Peringkat I : Rahmadina araya Safitri
Peringkat I : Indra Arinka Nandita Galuh
Peringkat III: Khalifindra Casmita Rahmatullah

Kelas II Ibnu Kholdun :
Peringkat I : Alzena Levia
Peringkat I : Nadia Revalina Azzahra Putri Wahyudi
Peringkat III: Aisyah Rafa’atul Mahmudah

Kelas III Ibnu Battutah :
Peringkat I : Desy Nanda
Peringkat I : Irji’ul Haq
Peringkat III: Fadhel Ahmad Aflah

Kelas IV Al-Farraby :
Peringkat I : M. Wahid Darmawan
Peringkat I : Jasmine Divatika Aulia
Peringkat III: Hamdan Fiqry Haiqal

Kelas V Al-Kindi :
Peringkat I : Fawwas Hanif Basyaeb
Peringkat I : Jihad Iqra’ Bakti
Peringkat III: Azzumardi A’raaf

Kelas V Al-Ghazali :
Peringkat I : Aura Pramestika Ananda Galuh
Peringkat I : Fitrianne Farras
Peringkat III: Ramadhani Rafi Rasheesa

DSCN1855 DSCN1864 DSCN1886 DSCN1891 DSCN1895 DSCN1904 DSCN1917 DSCN1918 DSCN1921

DSCN1160 DSCN1168 DSCN1184 DSCN1196 DSCN1201 DSCN1204 DSCN1207 DSCN1214 DSCN1240