PANDAAN – Di sela kesibukan mendidik siswa kelas II International Class Program (ICP) SD Muhammadiyah 3 Pandaan, terdapat sebuah kisah menarik tentang kecintaan terhadap literasi. Pada Selasa (10/02/2026), Indah Itawati, S.Pd.SD. berkesempatan mengulik lebih dalam hobi membaca Eny Susanti, S.Pd., seorang pendidik yang menjadikan buku sebagai jendela dunianya.

✨ Perpustakaan Sekolah ke Genggaman Digital
​Hobi membaca novel yang ditekuni Eny Susanti bukanlah hal baru. Kegemaran ini sudah tumbuh sejak beliau masih duduk di bangku sekolah. Menariknya, keterbatasan di masa lalu justru menjadi pemacu semangatnya. ​”Dulu karena tidak ada biaya untuk beli buku, saya sering menghabiskan waktu di perpustakaan. Sekarang, seiring kecanggihan teknologi, saya mulai membaca lewat aplikasi di HP. Tapi kalau ada rekomendasi buku yang bagus, saya tetap beli versi fisiknya,” ujar Eny Susanti sembari tersenyum.

Bagi beliau, novel fiksi memiliki daya tarik magis yang mampu membawa pembaca bertualang ke “dunia lain” dan memahami berbagai karakter manusia secara mendalam.

✨ Empati di Ruang Kelas
​Bukan sekadar hobi, membaca ternyata berdampak besar pada cara Eny Susanti mengajar. Beliau mengungkapkan bahwa menyelami alur cerita fiksi membantu meningkatkan kemampuan empati dan analisis. Hal ini sangat membantu dalam memahami karakteristik siswa di kelas.

​Melihat antusiasme siswa kelas II ICP yang selalu haus akan hal baru, Eny Susanti juga kerap memberikan arahan literasi. Namun, beliau memiliki pandangan bijak terkait bacaan anak di era sekarang:

  • ​Rekomendasi untuk Siswa: Beliau lebih menyarankan buku-buku sains yang kaya akan visual.
  • ​Alasannya: Buku sains dengan banyak gambar dapat memacu rasa penasaran (curiosity) anak dan memberikan pengetahuan yang konkret.

✨ ​Manfaat Nyata: Imajinasi dan Berpikir Kritis
​Eny merasakan bahwa manfaat terbesar dari membaca adalah meningkatnya imajinasi dan kemampuan berpikir kritis. Beberapa judul buku bahkan menjadi sumber inspirasi utamanya dalam mengabdi, sebut saja novel “Guru Aini” yang menyentuh hati hingga kisah logika tajam “Sherlock Holmes”.

Lantas, bagaimana beliau membagi waktu di tengah padatnya jadwal mengajar? Eny membagikan tips sederhananya:

  • Malam hari: Menyempatkan membaca di malam hari sebelum beristirahat.
  • Sela mengajar: Memanfaatkan waktu saat pergantian jam dengan guru bidang studi.

Semangat literasi yang ditunjukkan oleh Eny Susanti diharapkan dapat menjadi teladan bagi seluruh warga sekolah. Karena dengan membaca, kita tidak hanya menambah ilmu, tapi juga memperluas sudut pandang dalam menghadapi dunia.

Oleh: Humas SD Muhammadiyah 3 Pandaan